Asal Mula Sejarah Budaya Chindo di Kalimantan
Pontianak, obrolanwarkop.com – Sejarah kedatangan orang Tionghoa di Kalimantan Barat khususnya di Kota Pontianak diperkirakan bermula pada abad ke-18. Pada masa itu, Sultan-sultan di Kalimantan Barat mendatangkan buruh dari Tiongkok guna membantu pekerjaan di sektor pertambangan emas dan timah. Sebelum akhirnya menuju lokasi-lokasi pertambangan seperti di daerah Mandor, rombongan imigran Tionghoa ini singgah dan bermukim sementara di Kota Pontianak. Sebagian dari mereka sering disebut sebagai chindo (Chinese Indonesia) memilih menetap dan membuka usaha di kota ini. Mereka berkontribusi pada perkembangan ekonomi lokal.
Menurut hasil penelitian dari Tim Kajian Sejarah Provinsi Kalimantan Barat, rombongan etnis Tionghoa yang di pimpin oleh Lo Fong Pak. Mereka datang ke Pontianak pada tahun 1772. Kedatangan mereka awalnya hanya untuk transit dalam perjalanan menuju tambang emas Mandor. Selama singgah, mereka sempat mendirikan permukiman di daerah yang terkenal dengan nama Siantan. Nama Siantan di ambil dari kata “Sian” yang berarti marga dalam bahasa Tionghoa, khususnya merujuk pada marga Tan. Kelompok etnis Tionghoa marga Tan adalah yang pertama membuka pemukiman di kawasan tersebut.
Imbas Budaya dan Bahasa Tionghoa di Pontianak
Kedatangan orang Tionghoa di Pontianak tidak hanya membawa dampak ekonomi, tetapi juga budaya. Kelompok etnis ini terkenal masih mempertahankan budaya dan bahasa asli Tionghoa secara turun-temurun. Hal ini membedakan mereka dari komunitas Tionghoa di Pulau Jawa atau Sumatera yang sudah banyak berasimilasi dengan bahasa Indonesia atau bahasa daerah setempat. Di Pontianak dan sekitarnya, bahasa Tionghoa seperti Hakka dan Teochiu masih di gunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Pembagian kelompok Tionghoa di Kalimantan Barat pun cukup khas, dimana terdapat dua kelompok etnis terbesar yakni Teochiu yang lebih banyak tinggal di perkotaan dan bergerak di bidang perdagangan, sedangkan kelompok Hakka yang lebih banyak tinggal di perkampungan dan daerah pertambangan, berperan sebagai penambang, petani, dan pedagang kecil. Dalam sejarahnya, komunitas Tionghoa ini juga di kenal hidup berkelompok, meskipun ada beberapa yang sudah berbaur dengan masyarakat pribumi lainnya seperti Melayu dan Bugis.
Peran Orang Tionghoa dalam Perekonomian dan Politik Lokal
Orang Tionghoa di Kalimantan Barat, khususnya di Pontianak, memiliki peranan penting dalam bidang perdagangan. Mereka mengelola banyak pusat perdagangan di tepi Sungai Kapuas serta membuka pasar dan pertokoan yang juga berfungsi sebagai tempat tinggal. Setelah masa Orde Baru yang membatasi keterlibatan politik mereka, pasca reformasi 1998 mulai banyak orang keturunan Tionghoa yang aktif di ranah politik lokal. Beberapa tokoh keturunan Tionghoa pernah menjabat posisi strategis, seperti Ketua DPRD Kota Pontianak dan Wakil Gubernur Provinsi Kalimantan Barat.
Meskipun secara sosial mereka terkadang membentuk komunitas yang relatif tertutup, orang Tionghoa di Pontianak sekarang berbaur dengan etnis lain tanpa meninggalkan akar budaya asli mereka. Perpaduan ini memperkaya budaya lokal dan menjadi bagian penting dari keragaman sosial di Kalimantan Barat.
Simak juga artikel favorit tentang Pintu Masuk Kota Ghaib Saranjana, Misteri Yang Bikin Merinding
